BATU,Sidik Nusantara – Kepala Sekolah Dasar Negeri Songgokerto 03, Helmina Mauludiyah, S.Pd., M.Pd., telah berhasil meraih penghargaan Inovator Pendidikan Kategori Inspiratif setelah menghadirkan dua inovasi pendidikan dengan nilai kematangan 108, pada 5 Januari 2026 kemarin di Balaikota Among Tani Pemkot Batu.
Tentunya prestasi yang sangat membanggakan ini kembali mewarnai dunia pendidikan Kota Batu yang begitu apik. Dia sebagai kepala sekolah yang berperan langsung sebagai inisiator dan penggerak inovasi pendidikan berbasis digital dan karakter di SDN Songgokerto 03.

Kendati demikian, prestasi tersebut diberikan atas keberhasilan mengembangkan dan menerapkan dua inovasi pendidikan yang berfokus pada perlindungan anak dan penguatan pendidikan karakter, salah satunya melalui inovasi Senggorita, yang mengintegrasikan literasi, edukasi pencegahan kekerasan seksual, serta kolaborasi sekolah dan orang tua.
“Ide kemunculan inovasi ini adalah dilatarbelakangi oleh kondisi wilayah Songgoriti yang terletak di daerah pariwisata, dan rawan tindak kekerasan seksual. Pengetahuan orang tua dan anak yang minim tentang jenis, dan cara melindungi diri dari tindak kekerasan,” tuturnya, Jumat (10/1/2026).
Walaupun demikian, Inovasi ini lahir sebagai respons atas masih tingginya kerentanan anak terhadap kekerasan seksual serta minimnya pendidikan seks usia dini yang tepat.
“Tantangan utama yang dihadapi adalah pandangan sebagian orang tua yang masih menganggap pendidikan seks sebagai hal tabu, sehingga diperlukan pendekatan persuasif, edukatif, dan berbasis nilai agama serta budaya,” ucap guru senior ini sembari ramah.
Lebih lanjut, kata Helmina, proses pemenuhan inovasi dilakukan secara berkelanjutan selama Agustus 2024 hingga Agustus 2025, dengan memenuhi 29 indikator penilaian inovasi daerah yang ditetapkan.

“Tantangannya adalah ketika pemenuhan indikator-indkator ini, memerlukan ketelitian dan ketelatenan. Melalui input data yang ada di aplikasi Siridakoba, inovator harus menginput untuk menentukan nilai kematangan. Jika jilai kematangan dibawah 100, maka dianggap gagal dalam pencatatan inovasidari Nilai maksimal 110,” jelasnya.
Guru muda berprestasi ini menambahkan, Inovasi dikembangkan dan diterapkan di SDN Songgokerto 03, Kota Batu, serta direplikasi dan disosialisasikan ke berbagai jejaring pendidikan dan pemangku kepentingan, hingga minimal pengguna 500 user. Senggorita dapat diakses di sosial media instagram SDN Songgokerto 03, sehingga lebih mudah pemanfaatannya.
Tidak cukup disitu saja, akan tetapi melalui kerja kolaboratif, Helmina Mauludiyah bersama tim memenuhi 29 indikator inovasi, mulai dari regulasi, dukungan SDM, jejaring lintas lembaga, hingga monitoring dan evaluasi.
“Tantangan teknis juga dihadapi, terutama kesulitan dalam pengembangan aplikasi berbasis Android, yang memerlukan proses belajar, adaptasi teknologi, dan pendampingan berkelanjutan. Namun, inovasi tetap berjalan melalui pemanfaatan platform digital yang mudah diakses oleh siswa dan orang tua,” bebernya.
Diketahui, keberhasilan ini menegaskan bahwa inovasi pendidikan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga keberanian menghadapi tantangan sosial, konsistensi pemenuhan indikator, serta komitmen jangka panjang dalam menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan inspiratif.
Penulis: Akasa Putra








