Ada Peluang di “SERASI SPENSA” Siswa Makin Asyik

Daerah, News, Pendidikan74 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Di SDN Pendem 01(Spensa) Kota Batu, kemampuan literasi untuk keterampilan membaca dan menulis masih belum optimal karena ada beberapa sebab antara lain kesulitan mengenal huruf dan bunyi.

lambat dan tidak lancar dalam membaca, kesulitan memahami makna kata dan kalimat sederhana, keterampilan menulis yang terbatas khususnya terjadi di kelas awal.

Tampak antusias siswa mengikuti literasi di dalam kelas.

Guru Spensa Kota Batu ini, Rohmatul Hidayati, S.Pd.SD menuturkan, “SERASI SPENSA” (Setiap Rabu Literasi Inovasi di SDN Pendem 01) menjadi solusi di Spensa. Di samping itu ada beberapa faktor penyebab rendahnya literasi antara lain minat dan motivasi membaca yang rendah karena kurangnya ketertarikan pada buku penyebabnya siswa tidak memiliki minat untuk membaca buku, baik fiksi maupun non-fiksi.

“Mereka mungkin menganggap membaca sebagai kegiatan yang membosankan. Selain itu menurunnya motivasi membaca karena pengaruh lingkungan yang kurang mendukung misalnya lingkungan rumah yang tidak kondusif untuk membaca (misalnya, tidak adanya koleksi buku yang menarik, tidak ada contah membaca dari orang dewasa). Selain itu ketersediaan sumber belajar yang terbatas misalnya koleksi buku di Perpustakaan sekolah yang terbatas, kurang beragam, dan tidak sesuai dengan minat siswa,” ucapannya, Kamis (11/3/2026).

Menurutnya, Spensa khususnya di kelas 4A tingkat minat baca siswa masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari minimnya jumlah siswa yang meminjam buku di perpustakaan sekolah, serta kurang aktifnya kegiatan literasi seperti pajak baca, membaca 15 menit sebelum pelajaran, atau lomba literasi. Selain itu, perpustakaan sekolah belum memiliki koleksi buku yang memadai, baik dari segi jumlah maupun variasi genre buku.

“Karena guru belum mendapatkan pelatihan, khusus untuk mengembangkan kegiatan literasi yang kreatif dan berkelanjutan. Dampak yang terjadi yang terjadi adalah kemampuan membaca dan memahami teks siswa. Akses terbatas ke buku yang menarik karena bagian besar buku di perpustakaan, sudah usang atau tidak sesuai dengan minat dan usia anak. Kurangnya program literasi yang inovatif, karena belum ada program literasi rutin yang melibatkan siswa secara aktif dan menyenangkan. Kurangnya peran serta orang tua karena belum menyadari pentingnya literasi dan belum mendukung kegiatan membaca di rumah. Minimnya Pelatihan Guru dalam Pengembangan Literasi,” tandasnya.

Menurutnya, selain itu rendahnya keterlibatan siswa dalam kegiatan literasi berdampak pada hasil belajar mereka di semua mata pelajaran. Sehingga semangat belajar siswa menjadi kurang karena tidak terbiasa mengeksplorasi ilmu melalui bacaan. Solusinya adalah merevitalisasi perpustakaan sekolah dengan menambah koleksi buku bacaan.

“Gerakan Literasi Sekolah (GLS) lokal contohnya membuat program rutin seperti “SERASI SPENSA”, “Pojok Baca Kelos”, atau “Satu Hari Satu Buku”. keterlibatan komite sekolah dan orang tua juga penting contohnya mengadakan seminar atau penyuluhan pentingnya literasi di rumah. Selain itu pelatihan guru literasi dengan mengundang narasumber atau mengikuti pelatihan untuk mengembangkan metode arasi aktif di kelas,” jelasnya, sembari tersenyum ramah.

Adapun keunggulan metode serasi Spensa yaitu, kegiatan berbasis aktivitas menyenangkan dan kreatif. Karena “SERASI SPENSA” tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga dikemas dalam bentuk mendongeng, bermain acak kata, membuat komik literasi, drama pendek cerita rakyat, bermain peran dll.

“Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Rabu secara konsisten, sehingga membentuk kebiasaan positif yang berdampak jangka panjang terhadap keterampilan literasi siswa. Menumbuhkan minat baca dan cinta literasi sejak dini pada siswa melalui pendekatan yang menyenangkan dan bermakna. Meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa, baik literasi baca tulis, numerasi, digital, maupun literasi lainnya yang mendukung pembelajaran abad ke-21,” jelasnya.

Tidak mau ketinggalan pula, dengan mengembangkan kreativitas dan daya pikir kritis siswa melalui berbagai kegiatan literasi yang inovatif dan interaktif. Mendorong keterlibatan guru, siswa, dan orang tua dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Menciptakan budaya literasi yang hidup dan berkembang di sekolah, sebagai bagian dari karakter unggul Spensa.

“Meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan memahami teks pada siswa. Menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca sejak dini. Mendorong kreativitas dan imajinasi melalui kegiatan literasi yang variatif. Meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi siswa. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis, logis, dan analitis. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan inovatif. Memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *