Ada “SINCHAN” di Spensa Makin Seru Aja

Daerah, News, Pendidikan16 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Banyak siswa mengikuti pelajaran PAI sekadar menggugurkan kewajiban. Gejalanya tampak dari partisipasi kelas yang rendah, tugas yang dikerjakan asal-asalan, hingga kecenderungan menghafal tanpa memahami.

Penyebabnya berlapis, metode yang monoton dan kurang interaktif, materi yang terasa jauh dari realitas remaja, serta evaluasi yang lebih menekankan hafalan ketimbang pemecahan masalah. Dalam situasi ini, internalisasi nilai Islam tidak terjadi secara mendalam, siswa sulit mengaitkan ajaran dengan keputusan sehari-hari, sehingga motivasi semakin menurun.

Tampak seru, siswa Spensa mengikuti Interactive Challenge di sekolah.

Guru SDN Pendem 01 (Spensa) Kota Batu, Firhan Ubaidillah Al Abrary SPd ini menuturkan, Spensa saat ini sudah mempunyai program “SINCHAN” (Serunya Interactive Challenge Bersama Anak – Anak). Maka banyak kelas, PAJ dipersepsikan identik dengan ritual-seperti tata cara wudu, salat, dan bacaan sementara aspek akhlak, muamalah, literasi digital, dan etika bermedia kurang tereksplorasi. Akibatnya, PAI dipandang “tidak relevan” dengan isu yang dihadapi remaja.

“Pertemanan, perundungan, penggunaan gawai, manajemen waktu, hingga integritas akademik. Persepsi sempit ini mendorong jarak antara pengetahuan agama dan praktik hidup; siswa cenderung memisahkan “agama di kelas” dengan keputusan nyata di rumah, di media sosial, dan di komunitasnya,” tuturya, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, Islami dan tugas PAI masih beragam. Kesibukan orang tua, keterbatasan literasi keagamaan atau literasi digital, serta anggapan bahwa PAI sepenuhnya urusan sekolah membuat penguatan di rumah kurang konsisten.

“Komunikasi guru, orang tua kerap sporadis, sementara kontrol penggunaan gawai dan penanaman teladan akhlak belum optimal. Dampaknya, kebiasaan ibadah dan sikap positif yang dibangun di sekolah tidak selalu berlanjut di rumah, sehingga kemajuan siswa berjalan lambat dan tidak stabil,” ucap guru muda ini penuh energik.

Disampaikan pula, melemahnya identitas keagamaan peserta didik berkurangnya kepedulian terhadap nilai tradisi Islam. Siswa rentan terpapar ideologi, gaya hidup, dan pemikiran yang bertentangan dengan nilai Islam. Lulusan kurang memiliki soft skills dan keterampilan abad 21; pembelajaran PAI dianggap hanya normatif.

“Meningkatnya individualisme, perilaku konsumtif, hingga penyimpangan sosial. Potensi ketertinggalan jika PAI tidak beradaptasi dengan digitalisasi pembelajaran. Akses dan mutu pembelajaran PAI tidak merata, sebagian daerah masih terbatas fasilitas. Meningkatnya kasus perundungan, narkoba, intoleransi, dan perilaku menyimpang. PAl dianggap monoton, teoritis, dan kurang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Banyak guru masih menggunakan metode ceramah tradisional sehingga kurang diminati,” tegasnya.

Guru muda Spensa ini menambahkan, lulusan kurang siap menghadapi tantangan sosial, budaya, dan ekonomi nasional. Siswa cenderung pasif, hanya belajar untuk nilai, bukan pengamalan.

“Media pembelajaran kurang variatif, hanya mengandalkan buku teks. Siswa mudah bosan, kurang partisipatif, dan sulit mengaitkan materi dengan kehidupan nyata. PAl hanya terbatas pada jam pelajaran, tidak dihidupkan dalam budaya sekolah. Siswa terpapar nilai yang kadang bertentangan dengan ajaran Islam,” imbuhnya.

Meskipun demikian, SINCHAN merupakan inovasi untuk meningkatkan pemahaman dasar Ilmu PAI pada siswa kelas 3. Program ini terinspirasi dari kurangnya pengetahuan tentang agama.

“SINCHAN adalah bagian dari pembiasaan positif yang mendukung kurikulum, serta dapat dijadikan contoh dalam kehidupan beribadah dan beragama. Memberikan reward bagi siswa yang dapat menjawab atau mempraktikkan dengan tepat. Meningkatkan minat peserta didik dengan pembelajaran PAI. Meningkatkan keberhasilan praktif terutama dalam aspek ubudiyah (ibadah sehari-hari) di sekolah maupun rumah masing masing,” tandasnya

Dijelaskannya, lanjut dia, membentuk pribadi religius, jujur, disiplin, tanggung jawab, dan berakhlak mulia melalui tantangan harian serta pembiasaan nilai Islami. Mengaitkan materi PAI dengan realitas kehidupan siswa (pergaulan, media sosial, isu remaja), sehingga lebih relevan dengan abad 21.

“Mendorong keaktifan siswa dalam diskusi, proyek, dan kampanye memperkuat sinergi antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Menggunakan soal menantang. permainan edukatif, role play, dan konten digital Islami untuk menciptakan suasana belajar yang inovatif dan menyenangkan,” jelasnya sembari ramah.

Program SINCHAN dirancang untuk menghadirkan suasana belajar yang lebih menarik, aktif, dan menyenangkan, sehingga mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat siswa. Dengan soal menantang, metode interaktif, dan pendekatan ramah, siswa tidak lagi memandang PAI sebagai pelajaran yang monoton, melainkan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan mereka.

“Tujuan utama PAI adalah pembiasaan praktik ibadah yang konsisten. Melalui program SINCHAN, siswa tidak hanya diuji secara kognitif, tetapi juga diarahkan untuk menginternalisasi nilai agama dalam perilaku sehari-hari. Praktik ibadah seperti salat, doa, tilawah, dan akhlak baik dilatih di sekolah, kemudian diperkuat dengan keterlibatan orang tua di rumah. Dengan cara ini, PAI menjadi jembatan antara pembelajaran di kelas dan pembiasaan dalam kehidupan nyata,” paparnya.

Melalui tantangan harian, diskusi kritis, dan integrasi dengan isu-isu kontemporer, SINCHAN mendorong siswa untuk lebih eksploratif terhadap ilmu agama. PAI tidak hanya dipahami sebatas ritual, tetapi juga mencakup akhlak, etika sosial, literasi digital Islami, serta solusi kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, siswa belajar berpikir kritis, analitis, dan kontekstual dalam memahami ajaran Islam.

“Meningkatnya minat peserta didik dengan pembelajaran PAI. Dengan metode inovatif yang interaktif, SINCHAN mampu membuat peserta didik lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran. PAI tidak lagi dianggap sebagai pelajaran yang kaku, melainkan seru, menantang, dan relevan. Manfaat ini tercermin dari meningkatnya partisipasi, perhatian, serta keterlibatan aktif siswa di kelas,” bebernya.

Kendati demikian, berkembangnya rasa ingin tahu peserta didik mengenal ilmu PAI. Melalui tantangan soal, diskusi, dan integrasi dengan isu kehidupan modern, siswa terbiasa untuk bertanya, mencari jawaban, dan berpikir kritis tentang ajaran agama. Manfaat ini membantu membentuk generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang mendalam dan mampu mengaitkan nilai Islam dengan realitas sosial.

“Meningkatnya keberhasilan praktik ubudiyah di sekolah maupun rumah. pada SINCHAN tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pengamalan. Peserta didik lebih terbiasa menjalankan ibadah sehari-hari (salat, doa, membaca Al-Qur’an, akhlak mulia) baik di sekolah maupun rumah. Hal Ini menunjukkan adanya manfaat nyata berupa pembiasaan, Kedisiplinan, dan internalisasi nilai aga dalam kehidupan,” pungkasnya.

Penulis: Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *