Di “SERABI” Siswa Spensa Makin Betah

Daerah, News, Pendidikan45 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Rendahnya kesadaran kolektif terhadap kebersihan lingkungan, meskipun berbagai kampanye kebersihan telah dilakukan, masih banyak masyarakat termasuk siswa yang kurang memiliki kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.

Siswa Spensa saat membersihkan halaman sekolah.

Guru SDN Pendem 01 (Spensa) Kota Batu, Afif Fuad, SPd. ini menuturkan ada terobosan baru di Spensa melalui program “SERABI” (Setiap Rabu Bersih). Kebiasaan membuang sampah sembarangan dan tidak merawat fasilitas umum masih sering ditemukan, bahkan di lingkungan sekolah. Kurangnya budaya hidup bersih dan disiplin sejak dini budaya bersih dan disiplin belum sepenuhnya menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari siswa. Tanpa pembiasaan yang terstruktur di sekolah, siswa tidak mendapatkan contoh dan latihan nyata untuk menerapkan pola hidup bersih.

“Peningkatan volume sampah sekolah yang tidak terkelola dengan baik kegiatan belajar mengajar dan aktivitas siswa di sekolah menghasilkan sampah harian dalam jumlah cukup besar, namun belum semua sekolah memiliki sistem pengelolaan sampah yang terstruktur (misalnya pemilahan sampah, daur ulang, atau kompos).” tuturnya, Selasa (10/3/2026)

Tantangan Global Perubahan Iklim dan Lingkungan Pemanasan global dan krisis lingkungan telah menjadi isu internasional. Sekolah sebagai agen perubahan memiliki peran penting dala menanamkan nilai-nilai lingkungan hidup kepada peserta didik agar yang sadar dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan bumi

“Belum Meratanya Implementasi Program Sekolah Adiwiyata walaupun pemerintah mendorong program Sekolah Adiwiyata (Sekolah Berbudaya Lingkungan), masih banyak sekolah yang belum mengintegrasikan nilai-nilai pelestarian lingkungan secara menyeluruh ke dalam budaya, kurikulum, dan kegiatan siswa,” ucapnya dengan sedikit senyum.

Guru senior Spensa ini menambahkan, belum semua sekolah mampu mengintegrasikannya secara optimal.

“Masalah pengelolaan sampah di sekolah, masih banyak sekolah di Indonesia yang belum memilah sampah dengan benar. Pendidikan karakter masih belum menyentuh praktik nyata. Banyak siswa memahami nilai kebersihan secara teori, tetapi belum terbiasa melakukan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Meskipun demikian, sarana kebersihan belum memadai. Keterbatasan alat kebersihan dan tempat sampah terpilah, menghambat efektivitas kegiatan Rabu Bersih. Pelibatan warga sekolah belum menyeluruh, kegiatan sering hanya melibatkan siswa tertentu atau guru piket, belum menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah.

Kesadaran siswa terhadap kebersihan masih rendah, beberapa siswa membuang sampah sembarangan dan belum memiliki tanggung jawab. Menjaga kebersihan lingkungan kelas dan sekolah, belum ada sistem penghargaan dan evaluasi. Tidak adanya monitoring dan sistem apresiasi menyebabkan partisipasi cenderung menurun.

“Dukungan masyarakat sekitar masih minim, orang tua siswa dan lingkungan sek belum banyak terlibat dalam mendukung gerakan kebersihan yang dilakukan sekolah. Bersih bukan hanya tentang lingkungan, tapi juga tentang hati,” jelasnya

Menurutnya, tujuan pembaruan menjadikan kegiatan kebersihan sebagai budaya sekolah bukan sekadar rutinitas mingguan. Meningkatkan partisipasi dan rasa tanggung jawab siswa, guru, dan warga sekolah lainnya, mengintegrasikan kegiatan kebersihan dan pendidikan karakter dan kurikulum merdeka, menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini secara aktif, kreatif, dan menyenangkan.

“Pendidikan karakter melatih tanggung jawab, gotong royong dan kepedulian lingkungan sejak dini. Partisipatif dan kolaboratif melibatkan semua unsur sekolah, termasuk siswa, guru, orang tua, dan masyarakat. Kreatif dan menyenangkan kegiatan tidak monoton karena dibumbui dengan lomba, poster, dan kampanye visual. Evaluatif dan terukur Menggunakan sistem monitoring, reward, dan umpan balik berkala. Berorientasi jangka panjang Menjadi kebiasaan dan budaya sekolah, bukan hanya rutinitas sesaat,” cetusnya sembari ramah.

Tujuan program “SERABI” menumbuhkan budaya hidup bersih dan sehat, menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan diri belajar yang nyaman, aman, dan sehat. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab siswa terhadap lingkungan melatih siswa untuk sebagai bagian dari karakter positif yang perlu dibentuk sejak dini. Peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar sarta bertanggungjawab menjaga kebersihan.

“Menjadikan kegiatan kebersihan sebagai pembelajaran karakter dan kontekstual, mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter seperti disiplin, gotong royong, kerjasama, dan cinta lingkungan ke dalam kegiatan nyata melalui program kebersihan yang rutin dan terjadwal. Mengoptimalkan peran seluruh warga sekolah dalam Mewujudkan sekolah bersih melibatkan siswa, guru, tenaga kependidikan, dan komite sekolah secara aktif dan kolaboratif dalam menciptakan dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah,” tandasnya.

Selain itu, ia lanjutkan, mendukung terwujudnya sekolah berbasis lingkungan (Menuju Adiwiyata) Sebagai salah satu langkah nyata dalam mendukung program sekolah ramah lingkungan dan sebagai bagian dari upaya Spensa Sekolah Adiwiyata.

Menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan sekolah mendorong siswa untuk merasa memiliki terhadap lingkungan sekolah, sehingga muncul semangat merawat dan menjaga fasilitas serta tanaman yang ada di lingkungan sekolah.

“Menurunkan volume sampah sekolah melalui edukasi dan aksi nyata melatih siswa memilah sampah organik dan anorganik, serta mengenalkan praktik pengelolaan sampah sederhana seperti pembuatan kompos, penggunaan kembali barang bekas, dan daur ulang. Meningkatkan kualitas lingkungan belajar yang mendukung proses pembelajaran menciptakan suasana sekolah yang bersih, hijau, dan tertata rapi sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan menyenangkan,” bebernya.

Adapun manfaat program “SERABI” yaitu dapat meningkatnya kebersihan dan kesehatan lingkungan Sekolahan. SERABI membantu menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman, sehingga mendukung proses belajar mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan.

“Tumbuhnya karakter positif pada siswa melalui kegiatan kebersihan, siswa dilatih untuk memiliki karakter disiplin, tanggungjawab, gotong royong, peduli lingkungan, dan kemandirian dalam menjaga lingkungan sekitar. Terbentuk budaya hidup bersih sebagai kebiasaan sehari – hari, SERABI menjadi langkah kongkrit untuk menjadikan kebersihan sebagai bagian dari budaya sekolah yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Meningkatkannya kesadaran lingkungan sejak dini siswa diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan melalui aksi nyata dan edukasi langsung yong menyenangkan. Meningkatkannya partisipasi dan kerja sama seluruh warga sekolah program ini mendorong seluruh warga sekolah, siswa, guru, tenaga kebersihan kepala sekolah, hingga komite untuk aktif terlibat dan bekerja sama dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah,” paparnya.

Kendati demikian, mendukung terwujudnya sekolah berbasis lingkungan (Menuju Adiwiyata)Sebagai salah satu langkah nyata dalam mendukung program sekolah ramah lingkungan dan sebagai bagian dari upaya SDN Pendem 01 menuju Sekolahnya Adiwiyata.

Menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan sekolah mendorong siswa untuk merasa memiliki terhadap lingkungan sekolah, sehingga muncul semangat merawat dan menjaga fasilitas serta tanaman yang ada di lingkungan sekolah.

“Menurunkan volume sampah sekolah melalui edukasi dan aksi nyata, melatih siswa memilah sampah organik dan anorganik, serta mengenalkan praktik pengelolaan sampah sederhana seperti pembuatan kompos, penggunaan kembali barang bekas, dan daur ulang. Meningkatkan kualitas lingkungan belajar yang mendukung proses pembelajaran menciptakan suasana sekolah yang bersih, hijau, dan tertata rapi sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan menyenangkan,” pungkasnya.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *