BATU, Sidik Nusantara – Pada lingkup yang lebih kecil, realitas di SDN Pendem 01 (Spensa), Kota Batu, khususnya Kelas VI, menunjukkan pola yang sejalan dengan kondisi makro. Masih banyak siswa yang belum benar-benar memahami konsep faktor dan kelipatan, sehingga kebingungan ketika diminta menentukan FPB maupun KPK.
Guru Spensa, Cholilatul Zahro SPd ini menuturkan, sekarang hadir “MOTOR BATAS” (Metode Pohon Faktor Berbahan Kertas), yang nantinya akan menjadi solusi atau lebih mudah bagi siswa di sekolah. Mereka kerap melakukan kesalahan sederhana dalam menentukan faktor prima, atau sekadar menebak hasil tanpa memahami langkah-langkahnya.

“Selain kesulitan kognitif, sebagian siswa juga mengalami hambatan afektif berupa rasa cemas berlebihan saat berhadapan dengan matematika (math anxiety). Rasa takut salah, kurang percaya diri, monoton membuat mereka enggan mencoba,” tuturnya, Kamis (12/3/2025).
Menurutnya, media dan kebosanan dengan metode pembelajaran yang yang tersedia di kelas pun cenderung terbatas pada papan tulis dan buku paket, sehingga kurang mampu membantu siswa memvisualisasikan konsep abstrak perbedaan gaya belajar siswa juga belum banyak terakomodasi, sehingga sebagian anak merasa semakin tertinggal.
“Hal ini berdampak pada menurunnya hasil belajar, rendahnya keterampilan berhitung dasar, serta kurangnya kesiapan siswa menghadapi jenjang berikutnya. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan inovatif yang lebih konkret, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan siswa,” ucapnya dengan ramah.
Meskipun demikian, inovasi yang ditawarkan adalah MOTOR BATAS . Inovasi ini dikembangkan untuk mempermudah siswa dalam memahami faktor, kelipatan, serta konsep FPB dan KPK dengan cara dibuat dari kertas sederhana yang visualisasi pohon faktor.
“Media mudah diperoleh, sehingga praktis, murah, dan dapat digunakan kondisi riil kelas, di mana siswa dapat belajar secara interaktif, berlatih berulang-ulang, serta menemukan pola berpikir logis melalui pengalaman langsung,”tandas Wali Kelas VI ini penuh semangat.
Bukan hanya itu saja, akan tetapi guru melakukan penilaian melalui latihan soal FPB dan KPK, serta meminta siswa melakukan refleksi atas pengalaman belajar dengan media pohon faktor.
“Siswa lebih mudah memahami konsep faktor prima, FPB, dan KPK. Kepercayaan diri siswa meningkat karena mereka mampu menyelesaikan soal dengan cara yang lebih sederhana. Minat belajar matematika tumbuh karena suasana belajar lebih variatif dan menyenangkan. Guru memiliki alternatif metode pembelajaran kreatif dan praktis yang dapat diterapkan berulang kali,” pungkasnya.
Penulis : Akasa Putra.
Editor : Akasa Putra.














