Menjalani Kerukunan Dengan “LEGI SPENSA”

Daerah, News, Pendidikan84 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Sikap peduli, suka menolong dan bergotong royong pada anak usia sekolah dasar sudah mulai luntur diberbagai lembaga pendidikan. Di SDN Pendem 01( Spensa) Kota Batu, terutama di kelas 5A sebagian besar siswa kurang peduli dengan kondisi lingkungan sekitar termasuk peduli dengan kondisi teman.

Tampak nyata siswa Spensa saat meletakkan makanan ditempatnya.

Guru Spensa Kota Batu, Susi FatmMenurutnya, jika ada sampah di lantai tidak akan ada yang mengambil karena merasa bukan mereka yang menjatuhkan sampah tersebut. Dan jika ada teman yang tidak membawa bekal atau uang saku mereka juga tidak peduli apakah temannya lapar atau tidak.

“Kelas 5A Spensa terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Melalui observasi yang sudah dilakukan, untuk berinteraksi di kelas siswa masih berkelompok dan sulit membaur dengan teman dari kelompok lainnya. Siswa masih memilih dalam berteman sehingga untuk mewujudkan pendidikan karakter gotong royong apalagi saling berbagi kepada teman yang membutuhkan menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan,” tuturnya, Kamis (12/3/2026)

Guru muda ini menjelaskan, masih harus mengingatkan untuk hidup rukun dan tidak mudah bertengkar. Hal tersebut menjadikan pendidikan karakter peduli terhadap sesama belum bisa dikatakan membudaya karena siswa belum terbiasa dan belum memiliki kesadaran akan pentingnya sikap baik tersebut.

“Pendidikan karakter yang diterapkan di Spensa, salah satunya adalah mewujudkan sikap gotong royong dan peduli terhadap sesama teman. Hal itu sesuai dengan salah satu visi Spensa yaitu terwujudnya siswa yang berakhlak mulia. Mewujudkan siswa yang memiliki akhlak mulia tidak bisa lepas dari pembiasaan penerapan sikap peduli terhadap lingkungan sekitar termasuk peduli terhadap kondisi sesama teman,” jelasnya, sembari ramah

Meskipun demikian, sikap peduli terhadap teman dapat terwujud dengan baik dilingkungan sekolah terutama di kelas 5A apabila siswa dapat menekan sikap individualisme. Beberapa faktor yang mempengaruhi sikap individualisme di kelas 5A antara lain kurang peduli dengan kepentingan teman, mengutamakan kepentingan sendiri, menolak berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan kecanduan terhadap gadget.

“Selain faktor dari diri, siswa juga ada beberapa faktor dari luar siswa yaitu metode pembelajaran yang kurang sesuai dimana siswa minim untuk belajar secara berkelompok. Faktor dari luar siswa lainnya yaitu pola asuh orang tua yang individualisme dimana orang tua minim menaruh kepercayaan terhadap anak untuk bermain dan berinteraksi di luar rumah,” tandasnya.

Dia lanjutkan, lumbung berbagi merupakan gerakan inovasi di kelas 5A yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Lumbung berbagi melengkapi program unggulan sekolah yaitu Kabul Juning (Kantong Bulying Jumat Hening). Lumbung berbagi terinspirasi dari kegiatan masyarakat dimasa pandemi covid 19 sekitar tahun 2020 sampai 2022 di mana masyarakat saling berbagai makanan untuk keluarga yang terpapar virus covid dan harus melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Lumbung berbagi sangat efektif untuk meningkatkan pendidikan karakter peduli dan saling tolong menolong terhadap teman di kelas 5A. Evaluasi dilakukan setiap satu bulan sekali dengan cara menulis refleksi pada selembar kertas yang dilakukan oleh peserta didik dan orang tua. Setiap siswa akan mendapatkan reward berupa stiker yang akan di tempel pada papan karakter dan dikumpulkan setiap akhir semester sebagai salah satu pedoman dalam penilaian sikap,” jelasnya.

Adapun tujuan diadakannya program “LEGI SPENSA” yaitu dapat mewujudkan salah satu visi Spensa berakhlak mulia. Meminimalkan sikap individualisme peserta didik. Membentuk peserta didik memiliki sikap peduli terhadap lingkungan sekitar maupun teman, suka menolong kepada sesama dan gemar bergotong royong.

“Mewujudkan suasana belajar yang nyaman karena pembiasaan hidup rukun di kelas dengan menekan pertengkaran dan perselisihan diantara siswa. Melatih siswa untuk belajar menghargai pemberian dan pertolongan teman. Menumbuhkan sikap tertib, disiplin dan sopan ketika mengambil makanan,” pungkasnya.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *