Sehat Jadi Prioritas “MORESTA JADIMANI” Makin Digemari

Daerah, News, Pendidikan1098 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Keterbatasan Kompetensi Guru PJOK, tidak semua guru mampu memodifikasi permainan atau olahraga profesional menjadi lebih sederhana dan edukatif. Keterbatasan sarana di sekolah, lapangan basket standar tidak ada, maka harus dimodifikasi ring mini dengan atau menggunakan halaman sekolah.

Guru Spensa Kota Batu, A.Muis Romadlon SPd menuturkan, “MORESTA JADIMANI” (Model Olahraga Responsif, Efektif, Strategis, dan Tangkas, Jasmani), di Spensa ini menjadi motivasi siswa yang rendah, siswa yang merasa kurang berbakat sering enggan ikut olahraga.

Tampak antusias siswa Spensa saat mengikuti olahraga penuh dengan semangat.

“Modifikasi permainan bisa jadi solusi agar semua merasa mampu dan ikut berpartisipasi. Resiko Cedera, olahraga profesional berisiko tinggi jika diterapkan mentah-mentah di sekolah (misalnya sepak bola dengan lapangan besar, kontak fisik keras). Modifikasi diperlukan agar aman, perbedaan kemampuan fisik siswa, dalam satu kelas ada siswa yang bugar dan ada yang cepat lelah. dimodifikasi, pembelajaran cenderung hanya menguntungkan yang kuat/bakat Jika saja. Kurangnya Media/Alat Modifikasi. Guru kadang kesulitan menemukan alat alternatif murah (misalnya bola plastik, karet, atau ring buatan),” tuturnya, Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, Kota Batu aktif dalam mendorong modifikasi olahraga profesional ke dalam pendidikan jasmani, terutama untuk meningkatkan inklusivitas dan efektivitas pembelajaran

“Namun, tantangan klasik seperti kekurangan guru, dukungan infrastruktur, serta penerapan inklusi secara menyeluruh masih menjadi PR yang perlu diatasi,”ucap guru muda penuh energik ini sembari ramah.

Dalam hal ini ada keunggulan yaitu, dapat meningkatkan aksesibilitas keterbatasan atau olahraga bisa dimainkan oleh semua siswa, termasuk mereka yang memiliki mental, fisik, keterampilan. Tidak ada diskriminasi antara siswa berbakat olahraga dan yang tidak berbakat.

“Meningkatkan partisipasi siswa, aturan dan sarana yang dimodifikasi membuat olahraga lebih mudah, menyenangkan, dan aman. Siswa yang biasanya enggan ikut olahraga menjadi lebih termotivasi untuk berpartisipasi. Modifikasi mengurangi gerakan berbahaya atau kontak fisik keras yang umum dalam olahraga prestasi. Siswa dapat belajar keterampilan dasar tanpa takut cedera,” tandasnya.

Oleh karena itu, juga sangat mendorong edukatif pembelajaran nila, tidak hanya fokus pada menang atau kalah, tetapi juga mengutamakan kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan disiplin. Pendidikan karakter lebih menonjol dibanding ambisi prestasi.

“Menyesuaikan dengan fasilitas sekolah dengan keterbatasan sarana masih bisa melaksanakan pembelajaran olahraga dengan memanfaatkan alat sederhana (bola plastik, lapangan kecil, ring mini). Tidak bergantung pada fasilitas profesional yang mahal. Meningkatkan kreativitas guru dan siswa, guru ditantang untuk berinovasi memodifikasi permainan sesuai kondisi sekolah. Siswa juga belajar berpikir kreatif dalam memecahkan masalah permainan,” ujarnya dengan tenang.

Dijelaskan olehnya, selaras dengan visi pendidikan Indonesia yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi dan partisipasi semua siswa. Olahraga tidak lagi eksklusif untuk atlet, melainkan bagian dari proses pendidikan menyeluruh. Meningkatkan kesehatan dan kebugaran secara merata.

“Dengan modifikasi, semua siswa bisa aktif bergerak sesuai kemampuannya, hasilnya kebugaran meningkat lebih merata di kelas. Mengatasi masalah physical inactivity (kurangnya gerak) yang banyak dialami anak-anak modern. Membangun rasa kebersamaan inklusivitas dan olahraga modifikasi menekankan kerja sama tim, saling menghargai, dan kebersamaan. Semua siswa merasa dihargai karena bisa ikut terlibat sesuai kapasitasnya,” jelasnya

Kendati demikian, ternyata banyak manfaat bagi siswa yaitu, semua siswa bisa ikut berpartisipasi tanpa merasa tersisih. Belajar keterampilan gerak dasar dengan cara yang lebih mudah dan menyenangkan. Lebih aman dari risiko cedera dibanding olahraga prestasi asli. Meningkatkan motivasi, minat, dan kegembiraan dalam berolahraga. Menanamkan nilai-nilai positif: sportivitas, kerja sama, disiplin, dan menghargai perbedaan. Membantu meningkatkan jasmani secara merata. kebugaran

“Bukan hanya itu saja, tetapi juga banyak manfaat bagi guru juga diantaranya, dapat memberikan ruang kreativitas dalam mengembangkan model pembelajaran. Membantu guru menyesuaikan metode dengan kondisi nyata sekolah (fasilitas terbatas, perbedaan kemampuan siswa). Memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran jasmani yang sesuai dengan kurikulum,” paparnya penuh semangat.

Tidak tanggung-tanggung, bagi sekolah juga bermanfaat untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang inklusif, ramah anak, dan mendidik. Menunjang visi dan misi sekolah dalam pengembangan karakter siswa. Meningkatkan citra sekolah sebagai lembaga yang peduli kesehatan, kebugaran, dan inklusivitas.

“Bagi masyarakat dan lingkungan tentunya juga manfaat yang begitu besar yaitu dapat menciptakan budaya olahraga yang lebih inklusif, bukan hanya untuk kalangan atlet atau berprestasi saja. Membiasakan generasi muda untuk hidup aktif, sehat, dan menghargai keberagaman. Menjadi dasar pengembangan olahraga rekreasi masyarakat yang lebih luas,” pungkasnya.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *