Cuma Modal Prestasi, Penjual Roti Bakar Asal Ngawi Lulus Terpilih Jadi Calon Bintara Polri

Daerah, News267 Dilihat

Ngawi, sidik nusantara – Nasib orang siapa yang tau, seperti halnya yang dialami oleh Alexandro Tatim (21), warga Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan, Kabupaten Ngawi. Pemuda yang sehari – hari jualan Roti Bakar di Jl. Raya Ngawi – Caruban tersebut, sebentar lagi dipastikan memakai seragam Polri. Hal ini, setelah pihak Kepolisian Polda Jawa Timur (Jatim), menyatakan bahwa Alexandro Tatim lulus dan terpilih menjadi calon Bintara Polri pada rabu sore (20/12/2022).

Namun, nasib Sandro bisa tertolong lantaran kegigihannya dalam menekuni cabang olah raga tinju. Dengan semangat yang dimilikinya, ia dari Sekolah Dasar, terus berlatih tinju di Sasana Soerjo Ngawi. Atas ketelatenannya, Sandro menjelma menjadi sosok atlet tinju andalan Kabupaten Ngawi. Segudang prestasi pun mampu diraihnya, baik di even Daerah, Provinsi , maupun Nasional.

Berbekal prestasinya tersebut, Sandro mencoba mengadu nasib, mendaftarkan diri ke Polisi, melalui jalur prestasi. Keberuntungan anak ke tiga dari empat saudara ini berlanjut, setelah tahap demi tahap semua tes mampu dilaluinya, hingga pada akhirnya, Sandro dipastikan lulus terpilih menjadi calon Bintara di Polda Jatim.

“Puji tuhan, ini suatu mukjizat dari tuhan untuk saya. Saya benar-benar tidak menyangka bisa lulus jadi calon bintara Polri. Saya sudah mengikuti tes selama satu bulan di Polda Jatim melalui jalur prestasi. Pas waktu sidang putusan, saya benar-benar kaget saat nama saya dinyatakan lulus dan terpilih. Sekali lagi saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap Alexandro Tatim.

Namun, siapa sangka perjalanan serta perjuangan pemuda asli kelahiran Kota Ramah sebelum diterima jadi Calon Bintara Polisi ini penuh dengan lika – liku. Terlebih, keberadaan ekonomi keluarganya yang serba pas-pasan, membuat pria yang kerap disapa Sandro ini cuma bisa berusaha sekuat tenaga.

Untuk menopang biaya hidup serta sekolahnya saja, Sandro harus rela meluangkan waktunya dimalam hari, untuk berjualan roti bakar di pinggiran Kota Ramah. Perjuangan tersebut dijalaninya hingga Sandro lulus sekolah dan melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Ngawi.

“Saya ini dari keluarga yang kurang mampu, di Ngawi saya sejak kecil cuma bersama kakak saya. Orang tua saya sudah kembali ke NTT sejak saya masih SD. Untuk mencukupi kebutuhan, saya jualan roti bakar, ya kadang dapat seratus ribu, kadang cuma lima puluh ribu. Uangnya saya gunakan untuk membayar sekolah dan kuliah,” jelas Sandro.

Saat ditanya mengenai adakah biaya masuk Polri, Sandro mengaku tidak sedikit pun dikenakan biaya, alias gratis.

“Jujur saya tidak dibebankan biaya apapun mas, mulai saya daftar sampai saat sidang pengumuman lulus, gratis kok. Kalau untuk membayar, saya uang dari mana to mas, wong untuk biaya hidup saya aja masih cari-cari. Dan saya ini juga bisa jadi bukti bahwa jadi polisi itu tidak bayar,” jelasnya. (Wan/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *