Metode Qiroati Cabang Lamongan Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Selama 2 Hari

Daerah, News99 Dilihat

Lamongan, sidik nusantara – Sudah menjadi kebiasaan di tiap wilayah di Indonesia pada bulan Robiul awal umat islam mengadakan perayaan maulid nabi Muhammad SAW. Kegiatan perayaan pun dilaksanakan dengan berbagai macam cara sesuai tradisi dan kearifan lokal masing2. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Koordinator cabang Lamongan Metode Qiraaty hari ini.

Kali ini koordinator cabang Lamongan menggelar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW selama 2 hari sebagai rangkaian dari kegiatan MMQ metode Qiraaty ke-4 serentak seluruh Indonesia, yakni acara Pra MMQ yang dilaksanakan hari ini, Sabtu 30 September 2023 yang diisi dengan Gebyar Maulid Nabi Muhammad SAW yang diikuti 3 koordinator kecamatan (Karanggeneng, Sekaran, dan Turi) sebagai Tuan Rumah, dan Ahad 01 Oktober 2023 besok yang merupakan acara Puncak.

Kegiatan PHBI Maulid ini bertempat di Masjid Hidayatul Muslimin Dusun Semperat Desa Sumberwudi Kecamatan Karanggeneng Lamongan. Berlangsung mulai pukul 13.00 wib hingga pukul 17.00 wib

Acara perayaan Maulid yang mengusung tema *”Menebar Empati, Menambah silaturrahmi”* kali ini sangat istimewa dan berlangsung sangat meriah karena diikuti oleh 370 santri dan 70 guru dari koordinator kecamatan Karanggeneng, Sekaran, dan Turi kabupaten Lamongan.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menambah kecintaan kita kepada Baginda Nabi Muhammad SAW pastinya ya, sekaligus menjadi Syi’ar, juga memupuk empati kita, serta makin mempererat silaturahmi antar santri, guru, dan korcam khususnya di wilayah Karanggeneng, Sekaran, dan Turi.” Kata tuan rumah sekaligus panitia pelaksana, ustadzah Mar’atus Sholihah.

Menariknya, gebyar PHBI Maulid Nabi Muhammad kali ini menampilkan berbagai kreasi dan keahlian santri dari masing-masing korcam tersebut, salah satunya ananda Kanaya Nikayla Faida (santri TPQ Ihyaul Ulum Simo) yang menjadi pelantun ayat2 suci Al-Qur’an. Hal ini sangat berarti sekali bagi santri-santri TPQ yang memiliki bakat dan keahlian, karena mereka merasa dihargai dan mempunyai wadah untuk menyalurkan bakat dan keahlian mereka sehingga semakin cinta terhadap Al-Qur’an. (Wan/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *