BATU, Sidik Nusantara – Inovasi Lite-Pro Estiba (Literasi Progresif SMP Negeri 03 Batu), dilaksanakan berdasarkan permasalahan yang ditemukan di SMP Negeri 03 Batu merupakan permasalahan yang bersifat kontekstual dan terjadi secara langsung dalam lingkungan satuan pendidikan, khususnya pada aspek pembelajaran dan budaya literasi murid.

Menurut guru mata pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) sekaligus mengajar Kelas VII dan VIII, Dewi Rossilia, S.Pd ini saat ditemui di sekolahnya menuturkan, permasalahan- permasalahan tersebut antara lain, Kemampuan literasi murid berdasarkan Rapor Pendidikan belum mencapai kategori cakap/mahir dengan capaian turun 6.67 dari tahun 2024.
“Rendahnya frekuensi dan durasi membaca mandiri murid di luar kegiatan pembelajaran wajib berdasarkan Rapor Pendidikan. Bacaan yang dikonsumsi masih terbatas pada teks pendek atau instan, belum didominasi buku bermutu dan berjenjang sesuai tingkat kemampuan. Kegiatan membaca belum sepenuhnya disertai dengan tindak lanjut terukur, seperti uji literasi. Tidak adanya alat ukur untuk mengetahui hasil dari kegiatan membaca murid,” tuturnya.
Lebih lanjut dia sampaikan, banyak murid masih berada pada level memahami informasi secara literal, belum sampai pada kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Padahal, daya saing sumber daya manusia sangat ditentukan oleh kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan berbasis data.
” Teknologi dan gawai sebenarnya membuka peluang besar bagi literasi digital, namun masih lebih banyak digunakan untuk hiburan. Tantangannya adalah mengarahkan teknologi sebagai alat belajar, eksplorasi pengetahuan, dan produksi karya literasi, bukan sekadar konsumsi pasif,” ucapnya.
Dunia kerja abad ke-21 menuntut sumber daya manusia yang adaptif, komunikatif, dan mampu belajar sepanjang hayat. Tanpa literasi yang kuat, lulusan akan sulit bersaing, berinovasi, dan berkontribusi dalam ekonomi berbasis pengetahuan.
Selain itu, berdasarkan isu-isu lokal terkait literasi yang relevan dan realistis ditemukan di Kota Batu, khususnya dalam konteks sekolah menengah pertama dan lingkungan masyarakatnya antara lain,
Budaya membaca murid belum kuat dan belum berkelanjutan.
“Kemampuan literasi membaca murid masih beragam dan cenderung minimum. Isu-isu tersebut selaras dengan yang ditemukan di SMP Negeri 03 Batu diantaranya, Belum adanya sistem penjaminan literasi membaca yang terstruktur, Pemantauan perkembangan literasi murid belum berkelanjutan, Pengukuran ketercapaian literasi belum terstandar, tidak tersedianya aplikasi atau sistem digital pendukung dalam mengukur ketercapaian literasi murid, kesulitan dalam evaluasi dan perbaikan program,” paparnya.
Meskipun demikian, sebelum penerapan Inovasi data yang ditemukan sebelum penerapan inovasi Lite-Pro Estiba adalah adanya variasi kemampuan literasi murid secara umum di jenjang kelas VII. Berdasarkan hasil observasi guru, asesmen awal, serta evaluasi pembelajaran, teridentifikasi bahwa.
“Rendahnya durasi membaca murid secara mandiri diluar kegiatan pembelajaran. Kegiatan literasi belum terstandar dan belum terukur secara sistematis pada murid kelas VII dengan jumlah 319 murid. Kegiatan membaca belum terintegrasi dengan sistem evaluasi berbasis teknologi. Belum adanya levelling, kemampuan literasi murid. Tidak ada jaminan jumlah dan kualitas buku yang dibaca murid,” bebernya.
Selain itu, sesudah Penerapan Inovasi data yang diperoleh setelah penerapan inovasi Lite-Pro Estiba (Literasi Progresif SMP Negeri 03 Batu) adalah. Murid jenjang kelas VII dengan jumlah 319 murid diwajibkan membaca buku bermutu yang telah ditentukan sekola diluar kegiatan pembelajaran.
“Kegiatan literasi murid kelas VII sejumlah 319 sudah terstandart dan terukur. Kegiatan membaca murid sudah terintegrasi dengan aplikasi yang Bernama Lite Pro Estiba (Literasi Progresif SMP Negeri 03 Batu) dan 319 murid sudah melakukan asesmen,” tegasnya sembari tersenyum.
Adanya levelling dari hasil asesmen setelah uji literasi dengan menggunakan aplikasi Lite Pro Estiba yaitu,
4 murid dengan Tingkat Mahir
31 murid dengan Tingkat Cakap
54 murid dengan Tingkat Dasar, dan
230 murid dengan Tingat Perlu intervensi.
Murid wajib membaca 6 jumlah buku dalam kurun waktu 3 tahun dengan 2 buku setiap tahunnya.
“Kebaharuan dari inovasi Lite-Pro Estiba (Literasi Progresif SMP Negeri 03 Batu) ini adalah terletak pada pendekatannya yang sistematis, terukur, dan berbasis data dalam mengelola serta memantau perkembangan literasi murid secara berkelanjutan dengan rincian sebagai berikut. Menjamin lulusan telah membaca minimal 6 buku bermutu. Literasi diukur melalui pemahaman implisit dan nilai karakter, bukan sekadar hafalan. Pemanfaatan LMS sederhana yang mudah, murah, dan terukur. Bersifat progresif, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan syarat kenaikan kelas,” jelasnya dengan singkat.
Cara kerja inovasi Lite-Pro Estiba ini adalah sekolah menetapkan daftar buku bacaan wajib. Murid membaca buku secara mandiri dan fleksibel. Murid mengerjakan Uji Pemahaman melalui aplikasi Lite Pro Estiba. Sistem menilai dan menampilkan skor otomatis. Murid yang lulus mengunduh Rapor Literasi. Rapor Literasi digunakan sebagai dokumen pendukung akademik.
“Secara umum hasil inovasi Lite-Pro Estiba (Literasi Progresif SMP Negeri 03 Batu) adalah terwujudnya sistem literasi sekolah yang lebih terstruktur, terukur, dan berbasis data, sehingga perkembangan kemampuan membaca murid dapat dipantau secara objektif dan berkelanjutan,” ujarnya sembari tenang.
Dijelaskan pula, melalui penerapan literasi progresif yang terintegrasi dengan aplikasi digital, sekolah mampu memetakan kemampuan literasi setiap murid secara individual, mulai dari tahap pemahaman dasar hingga kemampuan analisis dan refleksi tingkat tinggi dengan harapan sekolah yaitu, Terbangunnya sistem literasi membaca yang terstandar dan terukur bagi seluruh murid kelas VII berjumlah 319 murid, sehingga kegiatan literasi tidak lagi bersifat insidental, tetapi terencana dan berkelanjutan.
“Terintegrasinya kegiatan membaca dengan aplikasi Lite Pro Estiba sebagai alat pemantauan dan evaluasi literasi berbasis teknologi, yang memungkinkan pencatatan, analisis, dan pelaporan capaian literasi murid secara sistematis. Tersedianya data capaian literasi murid secara individual dan kolektif melalui Rapor Literasi, dengan klasifikasi kemampuan:
4 murid kategori mahir, 31 cakap, 54 dasar, dan 230 perlu intervensi. Meningkatnya akuntabilitas kegiatan membaca murid, karena setiap aktivitas membaca disertai asesmen dan tindak lanjut berbasis data,” jelasnya
Selain itu juga, terarahnya bacaan murid pada buku bermutu dan berjenjang, sesuai ketentuan sekolah dan tingkat kemampuan literasi murid. Teridentifikasinya murid yang memerlukan intervensi literasi secara tepat sasaran, sehingga sekolah dapat merancang pendampingan dan strategi pembelajaran yang lebih efektif.
” Terbentuknya kebiasaan membaca mandiri secara berkelanjutan, dengan kewajiban membaca 6 buku dalam 3 tahun (2 buku per tahun) sebagai bagian dari budaya literasi sekolah,” pungkasnya.
Penulis : Akasa Putra.
Editor : Akasa Putra.














