Spensa Kota Batu “KANE – BOKU” Lebih Diutamakan

Daerah, News, Pendidikan52 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim meningkatnya limbah, kebersihan sebagai bagian gaya hidup berkelanjutan. Meningkatnya volume limbah, polusi, dan menurunnya kualitas lingkungan menuntut kesadaran kolektif, termasuk melalui pendidikan. Sekolah harus menanamkan budaya kebersihan dan gaya hidup berkelanjutan sejak dini.

Target SDGs (Sustainable Development Goals) mendorong kesadaran lingkungan sejak dini. Implementasi Gerakan Sekolah Sehat (GSS) dan Adiwiyata belum merata. Karakter “tanggung jawab” dan “kerja sama” masih menjadi pekerjaan rumah. Kota wisata dan pertanian memerlukan budaya bersih dan sehat dari level terkecil.

Guru SDN Pendem 01 (Spensa) Kota Batu, Yulinda SPd menuturkan, saat ini di Spensa telah hadir “KANE – BOKU” (Kegiatan Anak Bersih Optimal Unggul). Akan tetapi tidak semua sekolah memiliki petugas kebersihan mencukupi, sehingga perlu inovasi partisipatif dari siswa. Kota Wisata dan Adiwiyata, mendorong perilaku bersih dan ramah lingkungan sejak dini.

“Mengintegrasikan metode learning by doing yaitu siswa diajak untuk mengidentifikasi masalah, merancang solusi, mencoba secara langsung, dan mengevaluasi hasilnya dalam konteks kebersihan, kesehatan, dan kepedulian lingkungan sekolah,” tuturya, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, melibatkan semua siswa secara aktif, bukan hanya petugas piket atau guru. Dengan demikian, kebersihan dan kesehatan sekolah menjadi tanggung jawab bersama, bukan sekadar kewajiban individu tertentu.

“Sistem kontrol oleh siswa sendiri tanpa harus bergantung penuh pada guru. Dibangun mekanisme pengawasan dan evaluasi yang dilakukan oleh siswa sendiri (peer monitoring), sehingga mereka belajar tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama yang tidak harus bergantung penuh pada guru. Guru berperan sebagai pendamping dan fasilitator, sementara siswa dilatih untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga,” ucap guru muda berjilbab ini sembari ramah.

Meskipun demikian, masih ada beberapa permasalahan antara lain, lemahnya kesadaran dan kebiasaan menjaga kebersihan di kalangan siswa SD, ketergantungan sekolah pada petugas kebersihan.

“Kondisi kelas sering kotor saat pagi dan sore hari. Tidak ada sistem kebersihan mandiri berbasis siswa. Minimnya keterlibatan siswa dalam menjaga lingkungan sekolah,” tegasnya.

Keunggulannya, program ini dapat dijalankan dengan biaya yang sangat minim tanpa memerlukan sarana prasarana khusus. Mudah diterapkan dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada di sekolah.

“Melatih dan menumbuhkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan gotong royong melalui kegiatan nyata sehari-hari.Membiasakan siswa untuk berperilaku bersih, sehat, dan peduli lingkungan. Membangun budaya sekolah yang berkelanjutan,” timpalnya.

Dia lanjutkan, kebersihan dan kesehatan menjadi bagian dari budaya sekolah, bukan sekadar kegiatan sesaat. Membentuk kebiasaan baik yang terus melekat pada siswa bahkan di luar lingkungan sekolah.

“Program dapat diterapkan di kelas lain atau sekolah lain tanpa memerlukan biaya besar. Fleksibel dan dapat dikembangkan sesuai kondisi serta kebutuhan masing-masing sekolah,” imbuhnya.

Tujuan program tersebut, dapat mewujudkan budaya bersih yang konsisten di kelas dan lingkungan sekolah, dimula dari pembiasaan diri sendiri sebagai teladan. Menanamkan tanggung jawab dan disiplin siswa sejak dini, sehingga siswa mampu mengelola kewajiban secara mandiri.

“Membangun karakter gotong royong dan kepedulian lingkungan, melalui kegiatan kolaboratif yang melibatkan seluruh warga sekolah. Mendorong partisipasi aktif siswa dalam menciptakan kehidupan sekolah yang sehat, aman, dan nyaman untuk semua,” pungkasnya.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *