Ada “CIKAL BANTAL” Cinta Kearifan Lokal Melalui Pembelajaran Digital di SPENSA Keren

Daerah, News, Pendidikan956 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Berdasarkan hasil pengamatan guru pada siswa Kelas 5C di SDN Pendem 1 (SPENSA) Kota Batu, menunjukkan bahwa hanya sekitar 20% atau sekitar 5 sampai 6 siswa yang dapat
menyebutkan kurang dari 3 elemen budaya lokal—seperti cerita rakyat, kesenian, atau kuliner khas Desa Pendem Kota Batu.

Siswa SPENSA Kota Batu, saat mengikuti kegiatan pelaksanaan pembelajaran berbagai platform media digital.

Guru SPENSA Kota Batu, Anna Harizatul Iffah, S.Pd saat ditemui di sekolahnya menuturkan, perjalanan mendidik memang panjang tetapi setiap langkah kecil kita membentuk perubahan besar bagi negeri. Siswa umumnya tidak menunjukkan minat atau rasa bangga terhadap budaya daerah mereka. Artinya ada berapa hal yang mempengaruhi mereka, sehingga muncullah permasalahan tersebut yaitu berikut permasalahan makro yang ditemui guru terkait rasa cinta pada kearifan lokal Kota
Batu.

a. Keterbatasan Sarana dan Sumber Belajar
Tanpa akses internet dan laboratorium/perpustakaan,
siswa sulit mengakses materi kearifan lokal seperti video, arsip, atau literatur budaya. Terbatasnya sarana mendukung kegiatan eksplorasi budaya yang menarik (misal demo tari, video budaya Batu).

b. Implementasi Kurikulum dan Pembelajaran Terbatas. SD Pendem 01 sudah menerapkan Kurikulum Merdeka via proyek P5 (Profil Pelajar Pancasila), namun temanya cenderung generik dan kurang fokus langsung pada budaya lokal khas Desa Pendem.

c. Minimnya Kegiatan Praktik Budaya Lokal
Tidak banyak kegiatan lapangan atau praktik langsung
budaya lokal—seperti tari Kuda Lumping, Bantengan,
upacara adat Desa Pendem. Kurikulum harian dan ekstra belum dijadikan arena rutin untuk kegiatan budaya lokal: murid jarang langsung merasakan atau mengapresiasi budaya daerah mereka

“Cinta kearifan lokal penting karena merupakan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur, pengetahuan, dan praktik yang telah diwariskan
turun-temurun, serta memainkan peran penting dalam identitas budaya, lingkungan, dan kesejahteraan Masyarakat. Berikut permasalahan makro dan
permasalahan mikro yang muncul pada siswa,”tuturnya, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, kurangnya eksposur terhadap
praktik budaya lokal banyak sekolah atau komunitas tidak memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat
langsung dalam praktik kebudayaan lokal (misalnya
seni tradisi, upacara adat, kuliner lokal, bahasa daerah). Kurangnya fasilitas atau program yang amendukung pelestarian dan pengenalan budaya lokal kepada generasi muda.

“Stigma terhadap kearifan lokal ada anggapan bahwa budaya lokal hanya milik “orang tua” atau masyarakat desa, sehingga dianggap tidak sesuai dengan gaya hidup modern. Siswa mungkin merasa malu atau tidak bangga terhadap budaya daerahnya itu sendiri,” ucap guru muda berjilbab ini sembari tenang.

Meskipun demikian, identifikasi kearifan lokal, guru bersama narasumber (tokoh masyarakat) mengidentifikasi potensi budaya di lingkungan (tarian, kisah rakyat, musik, kerajinan, bahasa). Siswa mengamati/mencari informasi tentang potensi budaya di lingkungannya melalui berbagai sumber digital.

“Persiapan teknis dan sumber belajar mempersiapkan alat digital (laptop, koneksi internet), platform (app, website, Zoom), serta materi digital: video, animasi, e‑book, Orientasi Pelibatan Ice‑breaking budaya (tanya jawab seputar tradisi lokal), Asesmen awal pemahaman siswa,” tegasnya.

Dijelaskannya, membuat kesepakatan bersama peserta didik dan orang tua tentang pelaksanaan
program inovasi cinta kearifan lokal melalui pembelajaran digital. Memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang etika dalam menggunakan platform digital di kelas. Memberikan pemahaman kepada peserta didik untuk selalu mencintai warisan budaya.

“Pelaksanaan dikelas dan lapangan, menggunakan berbagai media digital. Presentasi e‑book, video micro learning, AR/VR virtual tur, game edukasi tentang budaya lokal. Proyek Berbasis Budaya Lokal: Siswa terlibat dalam projek seperti pembuatan dokumenter, infografik budaya, atau replika kerajinan lokal,” paparnya.

Tidak hanya sampai di situ saja, akan tetapi refleksi dan evaluasi hasil siswa dan guru melakukan presentasi produk, evaluasi formal dan refleksi terhadap pembelajaran dan nilai yang ditanamkan. Publikasi dan kampanye produk disebarkan melalui website, media sosial, gelaran budaya di sekolah atau komunitas. Perbaikan dan pengayaan gunakan umpan balik dari peserta, guru, publik untuk menyempurnakan materi dan metode. Sistem monitoring berkelanjutan melakukan asesmen secara periodik terkait rasa cinta terhadap budaya lokal

“Menjaga warisan budaya dari kepunahan, memupuk nilai dan kebanggan budaya. Meningkatkan minat belajar siswa. Siswa belajar secara kontekstual dan relevan. Media pembelajaran digital teruji valid, praktis dan berdampak nyata.Meningkatkan ketrampilan Abad 21,” bebernya, sembari ramah.

Kendati demikian, keunggulan dan tujuannya agar siswa dapat Menginternalisasi nilai-nilai luhur (seperti gotong royong, kejujuran, tanggung jawab) dalam narasi lokal serta membangun rasa cinta tanah air dan identitas bangsa yang kuat. Agar tercipta pendidikan yang bermakna sesuai konteks siswa.

“Siswa dapat mempraktikkan ketrampilan Abad 21 meliputi, pemikiran kritis dan problem solving, Kreativitas, Kolaborasi dan komunikasi tim, serta Literasi digital. Dan siswa terbiasa memanfaatkan teknologi digital secara bijak,” pungkasnya.

Penulis: Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *