Drama Musikal “Berkibarlah Benderaku” Sukses Digelar Di CFD Jalan Tunjungan

Daerah, News593 Dilihat

Surabaya, sidik nusantara – Jalan Tunjungan Surabaya dipadati oleh ratusan orang yang ingin menyaksikan drama treatikal peringatan refleksi perobekan Bendera Belanda, di atap Hotel Majapahit, Minggu (18/9/2022).

Kegiatan ini melibatkan 1.200 pemain dengan mengusung semangat nasionalis, yakni berkisah tentang perjuangan arek-arek Suroboyo dalam peristiwa perobekan bendera yang terjadi pada 19 September 1965 silam.

Pertunjukan seni teater bertajuk ‘Berkibarlah Benderaku’ ini dimulai pukul 08.00 WIB. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan para veteran terlihat menghadiri acara drama treatikal tersebut.

“Bapak Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya memimpin seluruh pemain drama musikal dan penonton untuk memberikan penghormatan kepada Bendera Merah Putih,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Kadisbudporapar) Wiwiek Widayati di lokasi acara.

Sebanyak 1.200 pemain atau penerus bangsa ini diantaranya diisi oleh pelajar, seniman, mahasiswa, dan pecinta sejarah di Kota Surabaya.

Konsep pertunjukan tersebut berformat Happening Art yang menggunakan Jalan Tunjungan sebagai ruang pertunjukan, mulai dari unsur teatrikal, tari, musik, puisi, dan performer yang berkolaborasi untuk mengekspresikan nilai-nilai sejarah dalam penguatan Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Acara dibuka dengan menampilkan suasana Kota Surabaya tempo dulu. Para pemain teater yang memakai kostum atau baju era setelah kemerdekaan berlalu-lalang di Jalan Tunjungan.

Suasana Surabaya tempo dulu makin khidmat dengan adanya suara rekaman pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan Ir.Soekarno Presiden Pertama RI, dari sudut-sudut jalan melalui sound system. Suara Soekarno menegaskan Indonesia sudah merdeka dalam skenario teatrikal itu.

Selanjutnya, adegan teatrikal menampilkan petinggi Belanda datang menumpang mobil diiringi para tentara. Hal itu membuat Arek-arek Suroboyo tersinggung dan mulai menunjuk ke atas hotel yang ternyata masih ada bendera merah putih biru atau Bendera Belanda.

Lalu, Arek-arek Suroboyo mulai mempersiapkan aksi untuk melakukan perobekan Bendera Belanda dengan memanjat gedung hotel. Ada tiga orang yang menaiki gedung, dan satu orang yang merobek bendera.

Usai momen peristiwa perobekan bendera, Eri Cahyadi mengambil alih alur cerita dan membacakan orasi yang menegaskan Indonesia sudah merdeka. Eri juga membacakan puisi yang berjudul “Arek Suroboyo”.

Setelah itu, drama perobekan bendera ditutup dengan pembentangan Bendera Merah Putih ukuran 800 meter di sepanjang Jalan Tunjungan, yang diangkat ratusan orang mulai dari pemuda hingga orang tua. (Guh/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *