Kelola Sampah Jadi Pupuk, Warga Sranak Bojonegoro Apresiasi Mahasiswa KKN Unugiri

Bojonegoro, News72 Dilihat

Bojonegoro, sidik nusantara – Banyak cara kreatif untuk mengatasi permasalahan sampah di lingkungan masyarakat. Salah satunya dilakukan warga Desa Sranak Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro. Bersama mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro, warga Stanak menjadikan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Enrico Sufiandi, ketua Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unugiri kelompok 51 mengatakan bahwa permasalahan sampah kian hari kian meningkat. Aktivitas rumah tangga penyumbang sampah terbesar akhir-akhir ini. Kondisi demikian yang kemudian memicu mahasiswa mencari solusi.

“Salah satunya dengan melakukan pemanfaatan sampah basah menjadi pupuk kompos cair yang berguna bagi para petani di desa Sranak yang mayoritas penduduknya petani,” ujarnya.

Sementara itu, Zainur Rokhim pemateri pada sosialisasi pemanfaatan sampah menjadi pupuk kompos menyampaikan bahwa tidak ada kata sampah dalam hidup. Karena apapun barangnya semua bisa menjadi pupuk cair yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos.

Bahan yang bisa digunakan dalam pembuatan kompos cair antara lain kulit bawang merah, kulit bawang putih, sisa-sisa sayur, dan lain sebagainya dalam bentuk basah. Sehingga bisa difermentasi menjadi pupuk.

“Dengan cara fermentasi selama berbulan-bulan bahkan ada yang setahun lamanya,” ungkapnya.

Zainur juga menjelaskan bahwa banyak produk pupuk kompos yang bisa dibuat dari bahan-bahan sampah basah. Yakni antara lain, PSB (photosintesis bacteria), nitrogen, fosfor, kalium, pupuk daun, obat pengusir tikus, pupuk nutrisi buah dan lainnya yang mudah didapat dari toko pertanian.

Terpisah, warga Desa Sranak Kecamatan Trucuk Sukamto mengungkapkan kegiatan pelatihan ini sangat membantu masyarakat, khususnya para petani. Karena bisa jadi jalan alternatif dalam penggantian pupuk subsidi dari pemerintah. “Semoga kedepanya pupuk kompos cair ini bisa dikembangkan oleh masyarakat agar menjadi petani mandiri dan produktif,” terangnya.

Permasalahan pengelolaan sampah memang bukan hanya tanggungjawab individu saja, namun diperlukan kerja sama antara berbagai pihak baik masyarakat maupun dari pemerintah daerah.

Sementara itu Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga melakukan berbagai upaya dalam mengelola sampah menjadi produk yang berguna. Diantaranya memberikan pelatihan membuat paving block dari plastik kresek dan pelatihan budidaya manggot BSF yang dilakukan, Kamis (23/02/2023) silam.

Dalam pelatihan tersebut diberikan kepada pengelola Bank Sampah yang ada di Kabupaten Bojonegoro yang tercatat ada sebanyak 171 Bank Sampah. (Tris/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *