5.000 Warga Bergerak, Satu Kota Menjadi Panggung

Budaya, Daerah, News234 Dilihat

Madiun, sidik nusantara – Sekitar 5.000 warga dari berbagai elemen masyarakat bergerak bersama dalam Madiun Menari 2026. Mengusung tema “Satu Kota, Satu Gerak, Satu Irama”, menjadi ruang bersama untuk mengenalkan, mencintai dan menjaga budaya Kota Madiun, Sabtu (29/8/26).

Madiun Menari lahir dari aspirasi masyarakat dan pelaku seni yang menginginkan adanya ruang bersama untuk mengenalkan budaya lokal secara luas. Pemerintah Kota Madiun hadir sebagai fasilitator agar gagasan tersebut dapat diwujudkan melalui keterlibatan masyarakat.

“Madiun Menari bukan acara Pemerintah untuk rakyat. Ini gerakan rakyat untuk kotanya,” ujar Plt. Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun.

Masyarakat menjadi kekuatan utama dalam kegiatan tersebut. Pemerintah memberikan ruang dan memfasilitasi, sementara masyarakat menjadi bagian penting dalam menggerakan dan menjaga keberlanjutan budaya untuk kotanya.

“Kota Madiun tidak sedang membuat acara. Kota Madiun sedang membangun Gerakan Budaya,” lanjutnya.

Menurutnya, gerakan budaya tidak cukup dengan menampilkan kesenian dalam sebuah acara. Budaya harus dikenalkan, dipelajari, dicintai dan diwariskan sehingga terus hidup di tengah masyarakat.

“Kami tidak sedang membuat acara besar. Kami sedang membangun kebanggaan warga terhadap kotanya melalui budaya,” ujarnya.

Tari Beksan Parisuko menjadi bagian penting dalam Madiun Menari 2026. Tarian ciptaan seniman Kota Madiun ini menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan budaya lokal kepada masyarakat, khususnya kepada generasi muda. Beksan Parisuko mencerminkan keindahan, kesuburan, rasa syukur kepada Sang Pencipta, kehalusan budi pekerti, kesopanan, serta keselarasan hidup antara manusia dengan alam dan lingkungan.

Melalui Madiun Menari, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjaga dan bergerak tarian budaya secara langsung. Harapannya semangat tersebut dapat diteruskan melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, keluarga dan berbagai ruang kreatif lainnya.

“Budaya akan terus hidup ketika masyarakat merasa memiliki, mau mempelajari, mencintai dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Madiun Menari adalah milik masyarakat Kota Madiun,” tuturnya.

Madiun Menari menunjukan bahwa ruang kota dapat menjadi ruang ekspresi masyarakat. Ribuan warga dari berbagai latar belakang hadir dan bergerak dalam satu irama, menjadikan Kota Madiun sebagai panggung budaya bersama.

“Madiun Menari: 5.000 Warga Bergerak, Satu Kota Menjadi Panggung. Harapannya Madiun Menari menjadi awal tumbuhnya gerakan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Madiun Menari sekaligus menjadi penanda dimulainya Spectra Night, ruang terbuka yang rencananya akan digelar rutin setiap bulan sebagai wadah masyarakat dan komunitas untuk berkegiatan secara positif, kreatif dan edukatif.

Spectra Night diharapkan menjadi ruang bersama yang hidup, aman, tertib, dan sekaligus memperkuat interaksi sosial masyarakat. Untuk menjaga kenyamaan ruang publik, kawasan Spectra Night tidak diperuntukan bagi aktivitas berjualan. Pemerintah Kota Madiun telah menyiapkan ruang bagi pelaku UMKM dan pedagang di sejumlah titik, seperti di Lapangan Gulun, Bundaran Taman, dan titik-titik lainnya.

Dengan demikian, Madiun Menari bukan sekadar tentang ribuan orang yang menari dalam satu hari. Lebih dari itu, Madiun Menari menjadi gambaran tentang masyarakat yang bergerak bersama, menghidupkan budaya dan membangun kebanggaan terhadap kotanya. (Miko/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *