Bojonegoro, sidik nusantara – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi melalui Bidang Tanaman Pangan menggelar kegiatan Perhitungan Susut Hasil Perontokan Padi di Poktan Sri Makmur, Desa Purwosari, Kecamatan Kwadungan. Kegiatan ini dilakukan untuk menekan kehilangan gabah pasca panen yang masih menjadi tantangan ketahanan pangan.
“Besar kecilnya susut dipengaruhi cara penanganan dan teknologi yang digunakan,” terang Supardi Kepala Dinas Ketahan Pangan Dan Pertanian
Supardi mengatakan secara umum ada 3 faktor penyebab susut yaitu faktor fisik di semua tahapan mulai panen hingga angkut, faktor biologis berupa serangan hama dan jamur akibat gabah basah/penyimpanan lembab, serta faktor fisiologis akibat respirasi biji.
“dalam kegiatan tersebut diuji 3 metode pemanenan, Sabit biasa (bergerigi) Power thresher (dos), dan Combine harvester besar,” jelasnya
Supardi menambahkan pelaksanaan panen tepat waktu, pengeringan hingga kadar air aman, dan penyimpanan kering merupakan kunci untuk meminimalkan susut dan menjaga kualitas gabah hingga menjadi beras.
Harapannya hasil uji ini dapat menjadi acuan petani saat memilih alat panen yang paling efisien atau terendah penyusutannya, sehingga penyusutan hasil saat pemanenan bisa ditekan semaksimal mungkin guna menjaga stabilitas hasil panen yang baik. (Fir/Red)














