Kirab Reog Singo Mudo Kelurahan Sukosari Menuju Punden Eyang Doro

Budaya, Daerah, News281 Dilihat

Madiun, sidik nusantara – Paguyuban Reog Singo Mudo Kelurahan Sukosari, Kota Madiun, menggelar kirab budaya menuju Punden Eyang Doro. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peresmian sekaligus upaya menghidupkan kembali kesenian Reog di Kelurahan Sukosari yang sempat vakum selama beberapa tahun.

Sekretaris Paguyuban Reog Singo Mudo, Kang Liem, mengatakan kegiatan tersebut merupakan momentum untuk kembali menggeliatkan seni dan budaya, khususnya kesenian Reog di Kelurahan Sukosari.

Dalam kegiatan tersebut, Kang Liem mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan udeng. Ia tampak berdiri bersama Ketua Paguyuban Reog Singo Mudo, Basuki, serta sesepuh paguyuban.

“Alhamdulillah untuk teman-teman. Pada hari ini kita melaksanakan kegiatan peresmian sekaligus kirab Reog Paguyuban Singo Mudo Kelurahan Sukosari. Sebenarnya ini kita melanjutkan kegiatan kesenian yang dulu pernah ada,” ujar Kang Liem.

Menurutnya, Kelurahan Sukosari pernah memiliki paguyuban Reog pada era 1990-an. Saat itu, kelompok tersebut bahkan pernah tampil dalam Festival Reog Ponorogo dan meraih juara kedua saat mewakili Kota Madiun.

“Setelah sekian lama vakum, hari ini kita hidupkan kembali. Tadi kita sudah melakukan gembyangan untuk Reog Singo Mudo yang baru. Harapan kami, dengan adanya kesenian Reog ini, dunia seni dan budaya di Kota Madiun, khususnya di Kelurahan Sukosari, bisa semakin ramai,” katanya.

Selain menjadi bagian dari kegiatan budaya, kirab tersebut juga diarahkan menuju Punden Eyang Doro yang selama ini menjadi salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Kelurahan Sukosari.

Kang Liem menjelaskan, di Kelurahan Sukosari terdapat tiga punden dan salah satunya berada di lokasi yang biasa disebut masyarakat sebagai Mbah Ndoro atau Eyang Doro.

“Kalau punden ini memang sudah ada sejak zaman dulu. Di Kelurahan Sukosari ini ada tiga punden, dan salah satunya di sini. Masyarakat biasa menyebutnya Mbah Ndoro,” jelasnya.

Ia mengatakan, berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, lokasi tersebut diyakini sebagai petilasan. Meski demikian, pihaknya mengaku belum mengetahui secara detail sejarah keberadaan punden tersebut.

“Untuk sejarah detailnya, yang kami yakini ini dulunya merupakan petilasan. Tapi yang jelas, untuk kegiatan masyarakat Kelurahan Sukosari, setiap ada hajatan atau pusat kegiatan memang di sini. Di sini tidak ada makam, hanya peninggalan atau petilasan saja,” ungkapnya.

Kang Liem berharap keberadaan Paguyuban Reog Singo Mudo mendapat dukungan dari pemerintah, terutama dalam hal pembinaan dan penyediaan sarana pendukung kesenian.

“Harapan kami semoga kegiatan ini mendapat dukungan dari pemerintah. Khususnya untuk pengembangan seni Reog. Walaupun Reog Ponorogo bukan kesenian asli Kota Madiun, tapi Reog Ponorogo itu sudah diakui dunia dan masuk dalam UNESCO. Sudah diakui menjadi salah satu budaya kesenian nasional milik Indonesia,” tuturnya.

Ia berharap dukungan tersebut dapat mendorong Paguyuban Reog Singo Mudo Sukosari untuk terus berkembang dan berkontribusi dalam melestarikan budaya sekaligus membawa nama baik Kota Madiun.

“Maka dari itu kami berharap pemerintah bisa ikut mendukung, baik pembinaan maupun sarana, agar Reog Singo Mudo Sukosari bisa terus berkembang dan mengharumkan nama Madiun,” pungkasnya.

Usai kegiatan di titik kumpul Kelurahan Sukosari, rombongan kemudian melanjutkan kirab budaya menuju Punden Eyang Doro. Antusiasme warga terlihat sepanjang perjalanan. Masyarakat turut menyaksikan arak-arakan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian seni dan budaya lokal. (Miko/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *