Siswa Spensa Lebih Senang Dengan “IBU CATER”

Daerah, News, Pendidikan583 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Kurang minat membaca buku di SDN Pendem 01 (Spensa) Kota Batu, untuk siswa kelas 1 dapat dilihat dari rendahnya motivasi anak untuk membuka dan menikmati buku di luar aktivitas membaca yang diwajibkan guru.

Guru Spensa Kota Batu, Yuti Triningsih SPd menuturkan tentang “IBU CATER” (Infak Buku Dan Membaca Terbimbing) di Spensa ini banyak siswa kelas 1 masih menganggap membaca sebagai kegiatan yang sulit dan membosankan, terutama karena keterbatasan bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan minat mereka.

“Buku-buku yang tersedia di kelas atau perpustakaan sekolah cenderung tidak variatif, kurang berwarna, atau menggunakan bahasa yang belum sepenuhnya dipahami oleh anak-anak usia dini. Hal ini menyebabkan mereka tidak tertarik untuk membaca secara mandiri dan hanya melakukannya jika diarahkan,” tuturnya, Kamis (12/3/2026).

Setiap pagi siswa Spensa mengikuti kegiatan membaca terbimbing, ilmu bertambah senangnya hati.

Menurutnya, isu rendahnya minat baca buku dan kemampuan literasi di kelas 1 di Spensa, menjadi perhatian utama dalam upaya pendidikan mutu peningkatan berdasarkan hasil observasi guru kelas 1 serta wawancara dengan wali kelas, sebagian besar siswa kelas 1 menunjukkan antusiasme yang rendah terhadap kegiatan membaca buku, baik di dalam kelas maupun saat kegiatan literasi pagi yang dijadwalkan sekolah.

“Temuan ini juga diperkuat dengan hasil angket minat baca yang disebarkan kepada 30 siswa dan orang tua. Sebanyak 64% siswa mengaku hanya membaca buku jika diminta oleh guru, sementara hanya 12% yang menyatakan senang membaca buku secara mandiri di rumah, jarang membaca 15%, tidak suka membaca 9 %. Sementara itu, 84% orang tua mengaku belum rutin membacakan buku atau menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama anak. Minimnya di koleksi buku bacaan yang menarik dan sesuai dengan usia anak di kelas juga menjadi hambatan,” ucapnya.

Meskipun demikian, dalam kondisi ini berdampak langsung terhadap kemampuan dasar literasi anak, terutama dalam memahami kata dan kalimat sederhana. Kurangnya pelatihan guru menggunakan metode literasi yang menarik dan belum optimalnya keterlibatan orang tua menjadi faktor yang memperparah isu ini.

“Rendahnya minat baca dan kemampuan literasi siswa kelas 1 di Spensa merupakan isu lokal yang mendesak untuk ditangani melalui penyediaan buku bacaan yang menarik dan sesuai usia, peningkatan guru dalam mengelola dalam kompetensi pembelajaran literasi, serta kolaborasi aktif antara sekolah dan keluarga menumbuhkan budaya membaca sejak dini,” tandasnya.

Tujuan program tersebut yaitu,

1. Meningkatkan kemampuan membaca dasar siswa kelas 1 SD secara bertahap dan terarah dengan bimbingan langsung dari guru.

2. Mengurangi kesenjangan literasi antar siswa, terutama mereka yang belum lancar membaca atau belum mampu memahami isi bacaan.

3. Meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar membaca melalui pendekatan yang ramah dan menyenangkan.

4. Membantu guru memantau perkembangan literasi siswa secara lebih mendalam melalui kegiatan kelompok kecil dan pengamatan langsung.

“Manfaat khusus untuk siswa Kelas 1 yaitu dapat, meningkatnya minat baca sejak dini. Infak Buku membuat siswa kelas memiliki lebih banyak pilihan buka yang sesuai usia dan menarik secara visual, sehingga mereka lebih antusias untuk membaca. Membangunnya kemampuan membaca bertahap. Program memberikan bimbingan langsung dari guru sesuai tingkat kemampuan membaca anak, mulai dari mengenal huruf hingga memahami isi bacaan sederhana,” jelasnya.

Kendati demikian, membaca terbimbing, meningkatnya percaya diri dalam membaca. Pendekatan bertahap dan suportif dalam membaca terbimbing membuat siswa merasa nyaman belajar membaca tanpa tekanan, sehingga kepercayaan diri mereka meningkat.

“Menumbuhkan kecintaan terhadap buku. Karena siswa terlibat dalam menyumbang dan menggunakan buku hasil infak, mereka merasa memilik dan menyayangi buku-buku di kelas maupun di perpustakaan sekolah. Menguranginya Kemampuan Membaca Kesenjangan. Melalui bimbingan kelompok kecil siswa yang mengalami kesulitan membaca akan terbantu secara lebih intensif, sehingga kesenjangan antar siswa dapat ditekan sejak dini,” pungkasnya.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *