BULIDI dan PROLING SPANDA Bentuk Generasi Literat, Sehat, dan Peduli Lingkungan di SDN Pandanrejo 02

Daerah, News, Pendidikan44 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Tantangan pendidikan Abad Ke – 21 menuntut peserta didik tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga berpikir kritis, berkolaborasi, kreatif, dan memiliki literasi digital.

Menjawab kebutuhan itu, SDN Pandanrejo 02 Kota Batu, meluncurkan program “BULIDI” atau Budaya Literasi Digital. Sebagai inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan literasi bahasa, literasi digital, dan pembentukan karakter dalam satu kegiatan.

Peserta didik SDN Pandanrejo 02, Kota Batu, saat mewawancara Kepala Desa, Abdul Maman.

BULIDI, adalah program pembelajaran berbasis praktik. Siswa diajak melakukan wawancara edukatif, lalu hasil wawancara diolah menjadi konten digital berupa video sederhana yang dipublikasikan secara terbimbing melalui media sosial sekolah.

Selain BULIDI, sekolah juga menjalankan inovasi PROLING SPANDA, yang berisi 6 gerakan: SEMANGKA, GELISA, JUTORPARING, JASAKUDIKAMU, TUANSAMAN, dan JUMBER.

Program digagas oleh guru SDN Pandanrejo 02. Wali Kelas IV, Rike Agustin Handayani, S.Pd., menyebut BULIDI hadir karena masih banyak siswa yang memanfaatkan media sosial secara konsumtif.

“Interaksi digital siswa sering kali belum diiringi dengan pemahaman etika digital. Karena itu perlu inovasi yang memadukan literasi bahasa, literasi digital, dan karakter,” tuturnya Senin, (20/7/2026)

Dua Guru Inovasi, SDN Pandanrejo 02, Kota Batu, wali kelas I, Adeyulia Praga Novitalia Putri, S.Pd. (kiri) , dan wali kelas IV, Rike Agustin Handayani, S.Pd.(kanan).

Dalam berkomentar dan memverifikasi informasi.

BULIDI dibuat untuk membiasakan siswa menggunakan teknologi secara produktif dan membentuk budaya bermedia sosial yang santun.

“Tahapan BULIDI: siswa menyusun kalimat tanya, melakukan wawancara, mengedit video sederhana, mengunggah ke media sosial, siswa lain memberikan komentar dan masukan secara santun,” ucapnya sembari tersenyum ramah.

Kendati demikian, BULIDI membuktikan pembelajaran bisa aktif, kreatif, dan kontekstual. Siswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga produsen konten edukatif.

Sementara, Wali Kelas I, Adeyulia Praga Novitalia Putri, S.Pd., juga menuturkan, rangkaian program PROLING SPANDA.

Seluruh kegiatan dilaksanakan di SDN Pandanrejo 02 Kota Batu, hasil karya siswa berupa video wawancara dan konten edukatif diunggah ke media sosial resmi sekolah. Evaluasi dan monev dilakukan secara berkala setiap semester.

Analisis sekolah menemukan 4 masalah utama:

1. Literasi digital rendah : Siswa masih menggunakan gawai untuk hiburan, belum untuk belajar aktif.

2. Keterampilan wawancara lemah : Siswa kesulitan menyusun pertanyaan sistematis dan percaya diri saat wawancara.

3. Kemampuan edit video terbatas: Siswa belum paham alur pembuatan video yang baik.

4. Etika bermedia sosial kurang: Siswa belum bijak

Untuk PROLING SPANDA:

SEMANGKA: Sehari Makan dengan Bekal. Siswa wajib bawa bekal sehat tiap Senin.

GELISA : Gerakan Lihat Sampah Ambil. Membiasakan membuang sampah sesuai jenisnya.

JASAKU DIKAMU : Mengolah sisa makanan jadi pupuk padat dan cair.

TUANSAMAN : Satu Anak Satu Tanaman. Setiap siswa merawat satu tanaman di sekolah.

Setelah berjalan, program menunjukkan peningkatan signifikan:

1. 85% siswa mulai memanfaatkan teknologi untuk belajar dan membuat karya digital.

2. 88% siswa mampu menyusun pertanyaan runtut dan lebih percaya diri saat wawancara.

3. 80% siswa mampu membuat dan mengedit video dengan alur lebih terstruktur.

4. 80% siswa lebih santun dan bertanggung jawab di media sosial.

5. Skor literasi pada Rapor Pendidikan 2025 naik 11,24% dibanding 2024.

“Dengan program ini siswa belajar membuat konten, mengedit, mengunggah, dan saling memberi masukan. Ini melatih keterampilan abad 21 secara utuh,” pungkasnya.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *