Rais Aam PBNU: Muktamar ke-35 NU pada tanggal 1-5 Agustus

Daerah, News276 Dilihat

Tuban, sidik nusantara – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Achyar mengharapkan tanggal pelaksanaan Muktamar ke-35 NU pada 1-5 Agustus 2026.

“Pelaksanaan Muktamar NU pada awal Agustus tanggal 1-5 Agustus itu sudah siklus muktamar, karena muktamar sebelumnya di Jombang juga Agustus,” katanya saat menutup Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jatim di Pesantren Sunan Bejagung 2, Tuban, Minggu (12/4).

Di hadapan ratusan peserta Muskerwil dari pengurus harian dan banom/lembaga PWNU serta PCNU se-Jatim, ia menjelaskan tempat pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU yang belum ada kepastian.

“Soal tempat, kita rapatkan dulu, apakah Surabaya atau Jakarta, bisa juga pesantren, apakah di Pesantren Walisongo, Situbondo, asuhan KH Cholil Asad, yang all in, atau pesantren tuan guru di NTB yang juga sudah lama minta, ataukah di Sumbar yang didukung tiga provinsi,” ujarnya.

Selain hal teknis, kata Kiai Miftah, hal penting adalah sejarah NU yang lahir dari kalangan pesantren. “Jadi, sejarah pesantren itu sudah ada sejak Rasulullah yakni ‘ashabush shuffa’ yang menjadi tempat kaderisasi santri dari berbagai negara, seperti Abu Hurairah kaderisasi Rasul jadi tokoh besar atau Gubernur di Mesir, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan banyak tokoh besar lain,” katanya.

Dalam sejarahnya, tokoh-tokoh pesantren yang melahirkan NU antara lain Syekh Nawawi yang menerima isyaroh dan akhirnya isyaroh itu dijalankan Syeikhona Cholil dengan mengirim tiga simbol yakni QS Thoha ayat 17-23, tongkat, dan tasbih. Selain itu, muassis NU juga sudah menegaskan amanah itu dalam Qonun Asasi NU.

“Masalahnya, NU sekarang belum melaksanakan simbol yang dilambangkan tongkat Nabi Musa yang sakti dalam membasmi kemaksiatan dan menyejahterakan umat dengan mengais tanaman atau rezeki. Faktanya, warga NU yang mencapai 87 persen dari 95 persen Muslim Indonesia itu masih unggul ekonomi sekitar 30 persen,” katanya.

Saat pembukaan Muskerwil, Wakil Rais PWNU Jatim, KH Abd Matin Djawahir, juga meminta untuk mengembalikan NU pada Qonun Asasi dan meneguhkan kembali peran syuriyah sebagai pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama.

Ia menyampaikan sejumlah pesan Rais PWNU Jawa Timur, KH Anwar Manshur, untuk dicermati dan ditindaklanjuti yang berbentuk maklumat Rais PWNU Jatim.

Pertama, mendukung suksesnya Muktamar NU pada bulan Agustus 2026. Kedua, penentuan tempat dan tanggal Muktamar mengikuti keputusan Rais Aam Nahdlatul Ulama.

Kiai Matin meminta NU tetap berpegang terhadap Qonun Asasi. NU didirikan ibarat kiai dan santri. Rais Aam ibarat kiai, sedang Ketua Umum ibarat pengurus pondok.

“Kemanapun NU, jangan lupa Qonun Asasi. Jangan sampai melenceng dari sejarah awal berdirinya. Dulu, NU didirikan ibarat kiai dan santri. Rais Aam ibarat kiai, dan Ketua Tanfidziyah ibarat santri,” katanya.

Menurutnya, memasuki abad kedua NU, penting untuk mengembalikan ruh Qonun Asasi dan menempatkan Rais Aam sebagaimana posisi awalnya. Ia juga mengingatkan agar tidak ada lembaga apapun yang posisinya melebihi Rais Aam.

“Jangan sampai ada lembaga di atas PBNU, apapun namanya. Tidak boleh ada yang lebih tinggi dari Rais Aam dan tidak boleh ada yang menghakimi Rais Aam. Supremasi syuriyah harus betul-betul kita perhatikan,” katanya.

Harapan Rais Aam PBNU dan Rais Syuriah PWNU Jatim itu dirumuskan peserta Muskerwil dalam masukan/usulan untuk Munas/Konbes dan Muktamar Ke-35 NU, diantaranya tiga pilar pendampingan pemberdayaan ekonomi (UMKM, hilisari pertanian/perhutanan sosial, Filantroopi/ZIS), Layanan Kesehatan/farmasi berbasis jamaah RS NU/klinik, pelembagaan aswaja dan AHWA. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *