Setiap Angka Punya Cerita “JELMA” Mengajarkan Kita Cara Membacanya

Daerah, News, Pendidikan319 Dilihat

BATU, Sidik Nusantara – Ketertarikan awal dan penerimaan metode baru dalam pelaksanaan pembelajaran matematika, terutama yang berbasis pendekatan kreatif, guru seringkali menghadapi tantangan awal berupa kurangnya ketertarikan siswa terhadap metode baru.

Guru Spensa Kota Batu, One Kustyorini SPd menuturkan, “JELMA” (Jelajah Matematika) ini karena setiap angka punya cerita dan numerasi mengajarkan kita cara membacanya. Artinya tidak semua peserta didik secara langsung menunjukkan antusiasme, terutama jika metode tersebut terasa berbeda dari rutinitas belajar mereka sebelumnya.

Setiap siswa mencatat jumlah manik berdasarkan warna kemudian memasukkan kedalam tabel.

“Diperlukan strategi pendekatan yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan motivasi intrinsik siswa, agar mereka tidak merasa terbebani atau cemas saat berinteraksi dengan angka dan konsep numerik,” tuturya, Jumat (13/3/2026)

Oleh karena itu, pemanfaatan konteks yang dekat dengan kehidupan mereka, penggunaan permainan sederhana, serta aktivitas berisiko rendah dapat menjadi titik masuk yang efektif.

“Kesulitan merancang materi yang tepat dan selaras kurikulum. Guru juga dihadapkan pada tantangan kompleks dalam menyusun materi yang tidak hanya menarik secara visual dan interaktif, tetapi juga relevan secara kurikuler. Menyeimbangkan antara kedalaman konsep matematika sesuai standar nasional dengan elemen kreatif menuntut ketelitian tinggi,” ucapnya dengan senyuman.

Meskipun demikian, materi yang terlalu ringan bisa mengurangi makna akademik, sementara yang terlalu abstrak bisa menghambat pemahaman. Proses desain LKPD harus berbasis analisis kebutuhan yang cermat, serta dilengkapi Indikator pencapaian yang mempertimbangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa.

“Penyesuaian terhadap gaya belajar yang beragam. Setiap siswa memiliki cara belajar yang unik ada yang lebih mudah memahami melalui media visual seperti gambar dan diagram, sementara lainnya lebih aktif saat terlibat langsung dalam aktivitas manipulatif atau simulasi,” ujarnya.

Di tingkat lokal, lanjut dia, khususnya di lingkungan sekolah dasar di wilayah Junrejo Kota Batu dan sekitarnya, guru menghadapi tantangan nyata dalam membangun ekosistem pembelajaran numerasi yang menyenangkan dan inklusif.

Kesenjangan kemampuan antar siswa sangat terasa, terutama dalam kelas yang heterogen. Beberapa siswa menunjukkan pemahaman yang baik, sementara yang lain masih kesulitan dalam operasi dasar seperti penjumlahan dan pengurangan.

“Media pembelajaran konkret seperti alat peraga, permainan angka, dan lembar kerja visual masih terbatas. Guru sering kali harus berinovasi dengan sumber daya seadanya, sehingga kegiatan numerasi belum sepenuhnya menarik dan bermakna bagi semua siswa. Selain itu, pembelajaran matematika cenderung bersifat individual dan formal, padahal siswa kelas rendah sangat membutuhkan pendekatan bermain dan kolaboratif,” lanjut guru berjilbab ini penuh semangat.

Menurutnya, keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah juga masih rendah. Banyak keluarga belum memahami pentingnya numerasi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pembiasaan berhitung di luar kelas belum terbentuk.

“Di sisi lain, belum tersedia sistem dokumentasi yang sederhana dan efektif untuk mencatat jejak perkembangan numerasi siswa secara berkala, sehingga guru kesulitan melakukan evaluasi dan tindak lanjut yang tepat,” tandasnya.

Sementara itu, kegiatan “JELMA” hadir sebagai solusi lokal yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Dengan pendekatan eksploratif, visual, dan kolaboratif, “JELMA” tidak hanya menjawab tantangan pembelajaran numerasi, tetapi juga memperkuat budaya belajar yang menyenangkan, terstruktur, dan terdokumentasi. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi model praktik baik yang dapat direplikasi dan dikembangkan di satuan pendidikan lain.

“Tujuan diadakannya program numerasi JELMA yaitu dapat meningkatkan minat belajar matematika, membuat siswa lebih antusias terhadap pembelajaran angka melalui pendekatan yang menyenangkan dan kreatif. Mengembangkan pemahaman konsep, membantu siswa memahami konsep dasar matematika, seperti penjumlahan, pengurangan, dan pengurutan angka, dengan cara yang sederhana dan bertahap,” tukasnya.

“Menciptakan Suasana Belajar yang Interaktif Membawa suasana pembelajaran yang melibatkan kolaborasi antara siswa melalui permainan atau aktivitas kelompok. Membantu siswa membangun kepercayaan diri untuk mengeksplorasi dan menyelesaikan soal matematika secara mandiri. Menggunakan permainan untuk membuat pembelajaran angka lebih menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa,” pungkasnya.

Penulis : Akasa Putra.

Editor : Akasa Putra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *